CAHAYA KEMULIAAN

Cahaya Kasih Sayang Tuhanku itu lembut, Dia tidak akan pernah membiarkan Hamba-Nya menangis bersendirian.

Yang Ku Sayang

Filed under: Uncategorized — nurfakhzan at 8:55 am on Saturday, March 15, 2008

Untuk insan insan yang kusayang
ada yang ku cinta kerana senyumnya
ada yang kujatuh cinta pandang pertama
juga ada yang setelah mengenal jiwa raga
berguling guling hatiku menahan rasa

Teristimewa untuk insan insan yang kukasihi
ada yang kukasihi kerana kasihnya kepada Tuhan
mengetuk ngetuk pintu hatiku dengan bait-bait agung
melihat mereka taqwaku jadi malu
imanku terserlah kurus
berbanding dengan kemantapan cinta di hati mereka
asyik dengan kalimah Allah itu sempurna
maka apa perlunya cinta selainNya?

teristimewa untuk Allah Kekasih siapa yang menjadikan Dia Kekasih
merindui secara batin akan WajahNya
merangkak ke syurga kerana disitu Dia ada
sanggup ke neraka jika di situlah Dia
cinta si Rabiatul Adawiyah menekan jiwa
merasa nikmat solat sunat hanya kerana Dia

asyik dengan halawatul iman setelah sabar menanggung ujian
setelah airmata taubat mengalir deras tak mahu henti
hidup di dunia seperti mati kerana jiwa sudah ke sana
melayang layang mengetuk ngetuk pintu rahmat Allah
pohon simpati meminta sedekah, cinta, perhatian dari Al Quddus

Kami semua rindu padaMu

Ar Rahman

Filed under: Uncategorized — nurfakhzan at 6:12 am on Saturday, March 15, 2008

Nama Ar Rahman mengandung sifat ihsan, pemurah dan pemilik kebaikan. Ibnul Mubaarak rohimahulloh mengatakan, “Ar Rahman apabila diminta pasti memberi dan apabila tidak diminta akan murka”. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi, “Barang siapa yang tidak meminta kepada Alloh maka Alloh murka kepadanya” (shahih, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ 2418, lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/27).

Sunyi dalam ramai, ramai dalam sunyi

Filed under: Uncategorized — nurfakhzan at 9:33 am on Tuesday, March 11, 2008

http://doeltea.wordpress.com/2007/11/

Jika perjalanan tafakkur kita menembus batas-batas cakrawala, menapak langit-langit hingga sidratul Muntaha, pastilah berakhir dengan keterjengahan hati kita, bahwa segalanya menuju, demi dan untuk Rabbul Izzah, Allah Ta’ala. Itulah awal perjalanan ke-Ikhlasan kita, disaat tafakkur sunyi menapakai “Inna Sholaati wa-Nususkii wa-Mahyaaya wa-Mamaatii Lillahi Robbil ‘Alamin…”(Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiiku hanyalah untuk Allah…”

Menuju Arasy kita bertemu dalam hamparan Liqo’Allah, dalam sunyi paling sunyi, karena segala hal selain Allah sirna, dan yang ada hanyalah Wajah Allah. Tetapi dalam sunyi paling sunyi, ghuyubul ghuyub itu, betapa tiada terperi,berhamparan cahaya yang meramaikan, lebih ramai dari keramaian apa pun juga, karena KemahaanNya Yang Rahman bersinggasana mengatur semesta. Seluruhnya berada dalam genggamnya yang serba sunyi senyap dalam ghuyubul ghuyub, dan ketika dilepaskannya dalam hamparan keleluasaanNya, betapa ramainya dalam taburan tasbih kepadaNya, atas Kemahasucian asma-asmaNya.

Kita baru memahamiNya ketika kembali ke dunia nyata, dengan segala keramaian peradaban, kesemrawutan manusia, tumpukan-tumpukan problema yang silih berganti antara cahaya dan kegelapan, bahkan suara-suara, rupa warna tiada tara, toh berujung pada kesunyian hati dalam sudut paling lorong, ada denyut jantung terus bersamaNya.

Bagaimana tidak? Yang nyata dalam fenomena, yang tampak oleh mata kepala, yang terdengar oleh telinga, yang teraba oleh indera, telah membawa tarikan pesona yang mealpakan kita di lembah Ghafalat, yang dibuai oleh tarian-tarian Syahawat, telah melemparkan kita di batas Hijab: Kita telah berada dalam jurang Jinabat. Dan Rumah Allah melarang orang-orang junub untuk memasukinya, kecuali telah bersuci dari Jinabat Ghafalat (kealpaan pada Allah)-nya.

Bertanyalah kepada bukit biru menjulang gagah, siapakah anda? Bertanyalah kepada gulungan-gulungan ombak di lautan, siapakah anda? Bertanyalah kepada desau angina lembut, dan bahkan badai yang menggelora, siapakah anda? Bertanyalah pada bunga tulip di pagi hari ketika mekar bersama kejora dan fajar hari, siapakah anda? Bertanyalah pada api yang membakar, dan seluruh enerji semesta, siapakah anda? Ternyata semua menjawab serentak dalam “harmoni konser pesona”: “Sesungguhnya kami adalah fitnah, maka janganlah anda kufur!”. Jawaban yang meledakkan seluruh dirinya, merobek seluruh nafsu kita, mencekam seluruh ketakutan, dan sekaligus mendendam kerinduan cinta kita.

Anda mau lari dari kenyataan? Lari dari gigitan paling pedih dari kesunyian ruhani anda? Lari dari keterlemparan diri anda akibat dosa dan kegelapan? “keinginanmu untuk lari menuju Tuhan dan hanya ingin sendiri bersamaNya, hanya ingin “Anda dan Dia”, sedangkan kenyatannya anda harus menghadapi dengan alam fikiran, logika sebab akibat, hasrat anda itu tadi hanyalah Nafsu tersembunyi dalam bilik ketololan, kemalasan, ketidakberanian, kepengecutan, dan kelelahan hati anda.

Hadapilah! Karena Allah tak pernah hilang, tak pernah ghaib, tak pernah berjarak, tak pernah bergerak atau diam, tak pernah berpenjuru atau bernuansa, tak pernah berbentuk dan berupa, tak pernah berwaktu dan ber-ruang. Tak ada alasan apa pun yang bisa menutup, menghijab, menghalangi, menirai Allah dari dirimu, apalagi sekadar untuk “Menyendiri bersamaNya” dalam hiruk pikuk dunia. Tanpa harus melepaskan tantangan zaman, perjuangan, kegairahan kehambaan, kita tak pernah terhalang sedetikpun untuk menggelayut di “PundakNya” apalagi bermesraan dalam PelukanNya.

Jika ruang sunyi di hatimu terganggu oleh buar dan suara-suara nafsu, masuklah ke dalam bilih ruhmu, karena dalam bilik ruhmu ada hamparan agung Sirrmu, dimana sunyimu menjadi sirnamu kepadaNya, bahkan tak kau sadari kau panggil-panggil NamaNya, karena kau telah berdiri di depan GerbangNya. Kelak kita bisa kembali bersamaNya, untuk melihat dunia nyata yang tampak di mata kepala, “BersamaNya aku melihat mereka,” begitu sunyi ungkapan Abu Yazid Bisthamy kita.

Inilah awal kebarangkatan kita,
menuju tetapi dituju,
memandang tetapi dipandang,
melihat tetapi dilihat,
bergerak tetapi diam fana,
berkata tetapi bisu,
memanggil tetapi dipanggil,
bersyari’at tetapi hakikat,
berhakikat tetapi syari’at,
bertangis dalam senyuman
senyum tak menahan airmata
bersunyi-sunyi tetapi ramai
beramai-ramai tetapi sunyi
Lalu kita berbondong-bondong menempuh Jalan Khalwat, menuju Gua Agung tak terperi, Hira’ hamparan hati. Agar hati lebih luas dari Arasy Ilahi, berbondong-bondong melepaskan atribut-atribut manusiawi, dan apa pun alasan dan alibi kewajaran kita, agar kita tak punya alas an lagi, untuk tidak durhaka kepadaNya, untuk tidak menghindariNya, untuk tidak berselingkuh dengan selain DiriNya, untuk tidak memproduksi bermilyar-milyar syetan setiap hari, untuk tidak menyembah ribuan berhala dalam hati.

Kita keluar dari Khalwat menuju ‘Uzlah Jiwa, lihatlah betapa sunyinya keramaian peradaban manusia, betapa senyapnya suara-suara yang berdesing atau bagaikan nyanyian tapi sunyi. Kecuali yang ramai di detak jantungmu, Allah Allah Allah, Subhanallah Walhamdulillah wa-Laailaaha Illallah Allahu Akbar, menyelimuti seluruh karamaian semesta. Sampai semesta sunyi dalam kefanaan, Allahu Akbar! Walillahil Hamd. Maha Puja-Puji bagi AbadiNya.

Deru mobil lalu lalang. Teriakan orang-orang lapar di jalanan atau di pengasingan. Desing peluru menghantar peperangan. Kerut melipat kening orang-orang di bursa saham. Murka para penguasa meneguhkan kesombongan.

Para koruptor berancang-ancang. Hukum semrawut di jalanan. Semua atas nama kepentingan diri dan golongan. Dari Jakarta ke London, Jakarta ke New York, Washingston ke tumpukan lembah debu di Palestina. Apakah ini Jakarta atau hutan liar penuh raksasa dari penjuru dunia? Oh, lihatlah bagaimana akibat orang-orang pendusta Tuhan.

best

Filed under: Uncategorized — nurfakhzan at 9:24 am on Tuesday, March 11, 2008

Suatu hari Nabi saw, bersabda kepada Aisyah ra.
” Hai Aisyah tahanlah pahitnya dunia demi nikmatnya akhirat…”

Tahukah kalian siapa nama anda di tengah-tengah kaum sufi? Sang Celaka atau Sang Bahagia? Sebenarnya sudah diketahui nama anda dalam catatanNya. Tapi anda jangan menyerah dan biarkan diri atas takdirNya, yang membuat anda malah merobek syariat.

Tekunilah dan berjuanglah sesuai yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang, karena adanya hal-hal yang tidak anda ketahui dalam takdir yang mendahului.

Lebih tipis dari sehelai rambut

Filed under: Uncategorized — nurfakhzan at 9:11 am on Tuesday, March 11, 2008

http://doeltea.wordpress.com/2007/12/

Oleh Utari

Tiap perkataan yang tidak ada padanya peringatan kepada Allah itu adalah tidak berfaedah, tiap-tiap diam yang tidak diikuti dengan berfikir itu adalah kelalaian dan setiap pandangan yang tidak dapat memberi pengajaran itu adalah sia-sia’. Naudzubillah….

Begitu banyak perkataan yang tidak berfaedah yang sering kita ucapkan, tak jarang..bahkan acapkali kita membicarakan hal-hal yang tidak berguna bahkan sia-sia. Begitu banyak perkataan kita yang telah menyakiti hati orang lain, memancing permusuhan, bahkan dengan lantang dan bangga melontarkan umpatan-umpatan dan olok-olokan kepada orang lain, yang sama sekali kita tidak tahu mungkin mereka yang kita olok-olokan lebih baik dari kita, justru kitalah yang merendahkan diri kita sendiri dengan olokan-olokan itu. Dengan mudahnya kita mengucapkan sumpah serapah dan janji-janji palsu untuk menutupi aib diri, padahal kita tahu begitu mudahnya Allah membukakan aib kita jika Dia berkehendak, tapi tidak Dia Maha Penyayang kepada semua makhlukNya.

Mengapa?? Mengapa kita tidak menggunakan lisan kita untuk mengucapkan perkataan-perkataan yang baik, yang mengajak kepada kebaikan, mencegah kemunkaran, saling menasehati dalam taqwa, memuji dan mensyukuri keagunganNya.

Kadang kita lebih memilih untuk diam, bukankah yang seperti itu adalah selemah-lemah iman. Bahkan tidak jarang diam kita hanya sekedar diam, diam yang tidak mendoakan, diam yang pasrah kepada keadaan tanpa berusaha mengubahnya. Bukankah itu sia-sia? Begitu tipisnya iman kita, lebih tipis dari sehelai rambut yang dibelah tujuh.

Mungkin pada saat-saat tertentu kita memang perlu diam, diam mengintrospeksi diri, berpikir untuk memperbaikinya, diam merenungi kebesaranNya, berpikir mengungkap hikmah dalam segala kejadian yang tiada kejadian terjadi secara kebetulan melainkan telah direncanakan dan atas izinNya, berpikir mentafakuri kebesarannya di alam semesta, yang kesemuanya itu senantiasa bertasbih menyucikan asmanya dan tak satu pun luput dari pengawasanNya. Ternyata banyak sekali kelalaian yang tidak kita sadari.

Seringkali kita melihat kejadian di sekitar kita, akan tetapi kita tidak bisa dan tidak mau mengambil pelajaran atasnya. Akankah kita biarkan terus menerus, pandangan ini sia-sia? Hanya untuk menatap tanpa sedikitpun pelajaran yang dapat kita ambil, melihat apa saja tanpa filter, sebebas-bebasnya, bukankah jelas tuntunanNya ‘tundukanlah pandanganmu’. Pantaskah pandangan seperti ini memandang wajah Allah di surga sana??

RINDU

Filed under: Uncategorized — nurfakhzan at 8:27 pm on Thursday, March 6, 2008

Senja datang lagi

Aneh bukan tajuk ini?

Kerana senja pasti datang dengan Janji Tuhan, sehingga kiamat, iradah dan tadir itu akan pasti berlaku. Sekiranya jantung masih berdegup, senja pasti ketemu lagi.

Aku sangat menantikan waktu senja. Bukan memilih kasih antara senja dan dinihari. Subuh masih dihati, Cuma tidak mampu menikmatinya seperti di

UK

, kerana mata masih lagi berkali-kali tewas dengan kantukan. Atau sahaja mengada2 masih mahu dibawah pelukan duvey.. J

Senja membawa memori yang sangat sangat sukar mahu diusir. Dipadam. Dilupakan. Diinjak2kan. Dibuang

Tiap kali senja hadir, air mata pasti melimpah membasahi pipiku.

Sungguh aku merinduinya. Seperti aku merindui lelaki yang aku cintai. Tetapi lebih lagi. Sakit didada sehingga menyesakkan dadaku. Sakit hingga ke hulu hati. Sakit yang tiada ubat nya lagi. Tuhan, mana mungkin Kau menghadirkan perasaan yang halus lagi indah ini tanpa aku menyedarinya yang ini anugerah teragung dari Mu?

Merenung mentari yang merah, perlahan-lahan turun ke ufuk barat, seperti melambai-lambai kepadaku. Mengibas kembali memori yang sungguh menghadirkan perasaan yang datang dari sudut paling dalam di hatiku.

Aku mencintai nya. Ya  Tanah Suci. Lambaian Ka’abah terimbau-imbau. Kubah hijau yang menciptakan perasaan yang sangat aneh, tidak mampu ditafsirkan oleh akal ini. Tetapi, akhirnya ku mengerti, inilah cinta.

Serasa tidak ada manusia yang akan mampu memahami perasaan ini. Dan hanya pada Mu ya Tuhan ku yang Maha Agung, kerana Engkau Maha mengerti, bahawa aku sangat merindukan Kekasih-Mu, merindukan Tanah yang amat dicintai oleh Kekasih-Mu. Jadikan lah aku Tetamu –Mu sekali lagi, berikanlah aku kesempatan untuk tunduk dan sujud pada-Mu lagi, kerana bagi ku, itulah nikmat teragung.

Dahiku, hidung ku,kedua telapak tangan ku, kedua lututku, dan kedua ibu jariku, semua nya merindukan Mu ya Tuhan ku.

Bagaimana mahu pergi lagi? Ayah ku, dan semua kenalan ku menyatakan, aku perlu pergi menunaikan Haji pula, sedangkan aku sangat mengerti, syarat untuk pergi itu sangat berat dan ketat untukku. Aku perlukan muhrim. Dan tiada cara lain selain dari pergi bersama ibu bapaku, atau adik aku, ataupon, ya, suami ku. Permudahan lah ya Allah.

Ya Tuhan ku. Aku sudah menjadi tetamu Mu dua kali. Satu dengan niat, satu tanpa niat. Tapi aku masih merindukan nya. Aku mahu sekali menjadi Tetamu Mu lagi. Aneh sekali perasaan ini. Mau mati disana. Mau dikuburkan disana. Mau menjumpai Kekasih Mu. Abu Bakar ra. Umar ra. Uthman ra. Ali ra.

Mahu menemui Mu, Tuhan ku, sebagai hambu Mu yang merindui Mu. 

Manusia biasa

Filed under: Uncategorized — nurfakhzan at 12:47 am on Sunday, March 2, 2008

Assalamualaikum. .. Semoga bermanfaat.. …. baik utk yang melamar
ataupun
yg dilamar, ataupun bagi yang sudah berumah tangga……

Renungan buat yang sedang mencari pasangan hidup ataupun yang sedang
mengemudi bahtera rumah tangga..
Mengapa? Kerana Dia Manusia Biasa ……

Kerana Dia Manusia Biasa …

Setiap kali ada sahabat yang ingin menikah, saya selalu mengajukan
pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suami/isterimu?
Jawabannya ada bermacam-macam. Bermula dengan jawaban kerana Allah
hinggalah  jawaban duniawi.

Tapi ada satu jawaban yang sangat menyentuh di hati saya. Hingga saat
ini
saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban dari salah seorang

teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib.

Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Kemudian membuat keputusan menikah.
Persiapan pernikahan mereka hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja.
Kalau
dia seorang akhwat, saya tidak hairan. Proses pernikahan seperti ini
selalu
dilakukan. Dia bukanlah akhwat, sebagaimana saya. Satu hal yang pasti,
dia
jenis wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami.

Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sukar untuk membuka hati.
Ketika
dia memberitahu akan menikah, saya tidak menganggapnya serius. Mereka
berdua
baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi
kenyataan.
Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tarikh pernikahannya.

Serta meminta saya untuk memohon cuti, agar dapat menemaninya semasa
majlis
pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Sebenarnya… ..!!!

Saya ingin tau, kenapa dia begitu mudah menerima lelaki itu. Ada apakah
gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia boleh memutuskan
untuk
bernikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk ketika itu
(benar-benar
sibuk).

Saya tidak dapat membantunya mempersiapkan keperluan pernikahan.
Beberapa
kali dia menelefon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa perkara.

Beberapa kali saya telefon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan
pernikahannya. That’s all……Kami tenggelam dalam kesibukan
masing-masing.

Saya menggambil cuti 2 hari sebelum pernikahannya. Selama cuti itu saya
memutuskan untuk menginap dirumahnya.

Pukul 11 malam sehari sebelum pernikahannya, baru kami dapat berbual
-hanya-
berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu

kami. Pada awalnya kami ingin  berbual tentang banyak hal.

Akhirnya, dapat juga kami berbual berdua. Ada banyak hal yang ingin saya

tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak perkara kepada saya. Beberapa
kali
Mamanya mengetok pintu, meminta kami tidur.

"Aku tak boleh tidur." Dia memandang saya dengan wajah bersahaja. Saya
faham
keadaanya ketika ini.

"Matikan saja lampunya, biar disangka kita dah tidur."

"Ya.. ya." Dia mematikan lampu neon bilik dan menggantinya dengan lampu
yang
samar. Kami meneruskan perbualan secara berbisik-bisik.

Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kami lakukan. Kami berbual banyak

perkara, tentang masa lalu dan impian-impian kami. Wajah keriangannya
nampak
jelas dalam kesamaran. Memunculkan aura cinta yang menerangi bilik
ketika
itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini
saya
pendamkan.

"Kenapa kamu memilih dia?" Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari
baringnya
sambil meraih HP dibawah bantalku. Perlahan dia membuka laci meja
hiasnya.
Dengan bantuan lampu LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya.

Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan sekeping envelop
kepada
saya. Saya menerima HP dari tangannya. Envelop putih panjang dengan cop
surat syarikat tempat calon suaminya bekerja. Apa ni. Saya melihatnya
tanpa
mengerti. Eeh…, dia malah ketawa geli hati.

"Buka aja." Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas putih bersaiz A4,
saya
melihat warnanya putih. Hehehehehehe. …….

"Teruknya dia ni." Saya menggeleng-gelengka n kepala sambil menahan
senyum.
Sementara dia cuma ketawa melihat ekspresi saya. Saya mula
membacanya.Saya
membaca satu kalimat diatas, dibarisan paling atas.  Dan sampai saat
inipun
saya masih hafal dengan kata-katanya. Begini isi surat itu……..

************ ********* ********* ********* ********* ********* *********

********* ********* ********* ********* ********* ********* *********
********* ********* ********* ********* *******
Kepada Yth ……..

Calon isteri saya, calon ibu anak-anak saya, calon menantu Ibu saya dan
calon kakak buat adik-adik saya

Assalamu’alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini
hingga akhir. Baru kemudian silakan dibuang atau dibakar, tapi saya
mohon,
bacalah dulu sampai selesai.

Saya, yang bernama ………… … menginginkan anda ………… …
untuk
menjadi isteri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa.
Buat
masa ini saya mempunyai pekerjaan.

Tetapi saya tidak tahu apakah kemudiannya saya akan tetap bekerja. Tapi
yang
pasti saya akan berusaha  mendapatkan rezeki untuk mencukupi keperluan
isteri dan anak-anakku kelak.

Saya memang masih menyewa rumah. Dan saya tidak tahu apakah kemudiannya
akan
terus menyewa selamannya. Yang pasti, saya akan tetap berusaha agar
isteri
dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa
kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi

kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia
biasa.
Cinta saya juga biasa saja.

Oleh kerana itu. Saya menginginkan anda supaya membantu saya memupuk dan

merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa.

Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Kerana

saya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat

tenaga menjadi suami dan ayah yang baik.

Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya
memilih anda. Saya sudah sholat istiqarah berkali-kali, dan saya semakin

mantap memilih anda.

Yang saya tahu, Saya memilih anda kerana Allah. Dan yang pasti, saya
menikah
untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak
berani
menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih
baik
dari sekarang ini.

Saya memohon anda sholat istiqarah dulu sebelum memberi jawaban pada
saya.
Saya beri masa minima 1 minggu, maksima 1 bulan. Semoga Allah ridho
dengan
jalan yang kita tempuh ini. Amin

Wassalamu’alaikum Wr Wb

************ ********* ********* ********* ********* ********* *********

********* ********* ***
Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali
ini
saya membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah.

Sederhana, jujur dan realistik. Tanpa janji-janji yang melambung dan
kata
yang berbunga-bunga. Surat cinta biasa.

Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum
tertahan.

"Kenapa kamu memilih dia……?"

"Kerana dia manusia biasa…….. " Dia menjawab mantap. "Dia sedar
bahawa
dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya.

Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan
apa-apa.
Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kami kemudian hari.
Entah
kenapa, justru itu  memberikan kesenangan tersendiri buat aku.."

"Maksudnya?"

"Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih
ada.
betuI tak? Paling tidak…. Aku tau bahawa dia tidak akan frust kalau
suatu
masa nanti kami jadi miskin.

"Ssttt…… ." Saya menutup mulutnya. Khuatir kalu ada yang tau kami
belum
tidur. Terdiam kami memasang telinga.

Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kami saling
berpandangan lalu gelak sambil menutup mulut masing-masing.

"Udah tidur. Besok kamu mengantuk, aku pula yang dimarahi Mama." Kami
kembali berbaring. Tapi mata ini tidak boleh pejam. Percakapan kami tadi

masih terngiang terus ditelinga saya.

"Gik…..?"

"Tidur…… Dah malam." Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin
dia
tidur, agar dia kelihatan cantik besok pagi. Rasa mengantuk saya telah
hilang, rasanya tidak akan tidur semalaman ini.

Satu lagi pelajaran dari pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika
manusia
sedar dengan kemanusiannya. Sedar bahawa ada hal lain yang mengatur
segala
kehidupannya. Begitu juga dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah
terpahat sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang
tahu
bagaimana dan berapa lama pernikahannya kelak.

Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tetapi
sebuah ‘proses usaha’. Betapa indah bila proses menuju pernikahan
mengabaikan harta, tahta dan ‘nama’.

Status diri yang selama ini melekat dan dibanggakan (aku anak orang
ini/itu), ditanggalkan.

Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan
yang
utama. Pernikahan hanya dilandasi kerana Allah semata. Diniatkan untuk
ibadah. Menyerahkan segalanya pada Allah yang membuat senarionya.

Maka semua menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap HambaNYA. Hanya Allah
yang
mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan
sebuah
pernikahan.

Kita hanya boleh memohon keridhoan Allah. MemintaNYA mengurniakan
barokah
dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan
dan
kemantapan untuk menikah.
Jadi, bagaimana dengan cinta?

Ibu saya pernah berkata, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi
hadir,
lalu tumbuh, kemudian merawatnya.

Agar cinta itu dapat bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam
pernikahan yang suci. Cinta tumbuh kerana suami/isteri (belahan jiwa).

Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha
menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin.

Wallahu ‘alam